TERNATE, JurnalMalut.com - Himpunan Mahasiswa Isalam (HMI) Cabang Ternate menyoroti buruknya pelayanan kesehatan Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate.
Sorotan itu mencuat setelah seorang warga Tafamutu, Kecamatan Pulau Moti, Mahmud Harun, meninggal dunia di Puskesmas Perawatan Moti pada Rabu malam, 5 Agustus 2026
Pasien disebut sempat menunggu hampir 11 jam untuk mendapatkan jemputan ambulans laut untuk dirujuk ke Rumah Sakit.
Bagi HMI peristiwa tersebut bukan sekedar persoalan keterlambatan armada, melainkan menjadi tanda adanya persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan
Direktur Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Ternate, Safril Ismail, meminta agar Pemkot Ternate segera mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan, khususnya mekanisme rujukan bagi masyarakat di Pulau Moti, Hiri, dan Batang Dua,
Menurutnya, ukuran keberhasilan pelayanan publik adalah sejauh mana sistem tersebut mampu bekerja cepat ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat. Pemerintah tidak cukup dengan hanya memastikan ambulans laut tersedia atau prosedur rujukan telah dibuat
Peristiwa ini kata dia, bukan sekedar persolan keterlambatan armada ambulans melainkan ini berkaitan dengan nyawa manusia, kalau seorang warga harus menunggu berjam-jam untuk dirujuk hingga akhirnya meninggal, maka pemerintah harus memberi kejelasan dimana sistem itu gagal.
"Jangan hanya sibuk menunjukan ambulans laut ada dan prosedur rujukan sudah dibuat. Pertanyaanya, ketika warga membutuhkan pertolongan apakah sistem itu benar-benar bekerja?" Tegas safril dalam rilis yang diterima media ini Kamis 27 Agustus 2026
Safril menilai evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pelayanan di puskesmas, proses rujukan, komunikasi antar-fasilitas kesehatan, kesiapan petugas dan armada, hingga waktu respons dan perjalanan menuju rumah sakit rujukan.
"Kalau prosedurnya ada tetapi responsnya lambat itu berarti ada masalah dalam implementasi. Tapi kalau armada ada lalu tidak siap pada saat dibutuhkan, berarti manajemen nya bermasalah. Jangan semua persoalan kemudian ditutupi dengan persoalan geofrafis" katanya
Safril juga menegaskan, kondisi geografis Kota Ternate sebagai wilayah kepulauan bukan lagi persoalan yang baru diketahui pemerintah. Karena itu, kebutuhan transportasi laut dan karakteristik wilayah semestinya sudah menjadi bagian dari desain sistem pelayanan kesehatan.
"Laut bukan alasan yang baru bagi pemerintah hari ini. Pemerintah tahu moti itu pulau justru karena itu, sistem pelayanan harus dibuat lebih siap. Jangan sampai masyarakat yang menanggung kelemahan dari sistem tersebut" Tegasnya
HMI juga meminta kasus tersebut tidak hanya berhenti pada ucapan belasungkawa. Menurut dia, keluarga korban dan masyarakat berhak memperoleh penjelasan secara terbuka mengenai rangkaian kejadian yang menyebabkan keterlambatan dalam rujukan pasien.
"Masyarakat kepulauan memiliki hal yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan, warga moti bukan warga kelas dua. Mereka juga bagian dari Kota Ternate dan memiliki hak yang sama mendapatkan pertolongan ketika dalam kondisi darurat" Tegas Safril
Atas kejadian tersebut HMI Cabang Ternate, mendesak Pemkot Ternate melalui dinas kesehatan untuk membuka kronologi meninggalnya warga moti dengan transparan.
"Pemerintah diminta menjelaskan secara rinci waktu pasien dinyatakan membutuhkan rujukan, waktu permintaan ambulans dilakukan, proses koordinasi antarfasilitas kesehatan, hingga alasan terjadinya keterlamabatan, jelasnya.
Selaim itu HMI juga meminta Pemkot Ternate melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan kesehatan di wilayah kepulauan. Evaluasi tidak boleh hanya menyasar ambulans laut, tapi juga mekanisme koordinasi, waktu respons, kesiapam petugas, dan kesiapan armada
Untuk diketahui pasien sempat dibawa ke Puskesmas Perawatan Moti pada Rabu pagi, 5 Agustus 2026 lalu, dengan diagnosa bengkak pada bagian kaki kanan. Setelah mendapatkan penanganan dari tenaga medis, pasien kemudian direncanakan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Darma Ibu pada pukul 08.30 WIT.
Namun, rencana rujukan tersebut terkendala keterbatasan armada ambulans laut di lokasi. Pasien bersama keluarga terpaksa menunggu sekitar 10 jam 45 menit untuk kedatangan speed ambulans laut yang diharapkan dapat melakukan evakuasi di kelurahan Moti kota.
Pasien harus kehilangan nyawa setelah menunggu kedatangan ambulans laut untuk proses evakuasi ke rumah sakit. (Jul/Red)
