![]() |
| Foto Korban bersama pacarnya yang menjadi korban penganiayaan oleh oknum kepala Desa Woekoba, Jeverson Burnama |
HALTENG, JurnalMalut.com – Kasus dugaan kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan kembali menyeret oknum pejabat desa.
Kepala Desa Woekobe (Weda Tengah), Jeverson Burnama, dilaporkan melakukan tindakan penganiayaan dan intimidasi terhadap seorang perempuan berinisial V, hingga anggota keluarganya di sebuah rumah kos di kawasan Transkobe.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pengakuan korban, aksi premanisme oknum kades ini diduga dipicu oleh rasa cemburu buta dan obsesi masa lalu yang belum usai.
Peristiwa bermula saat korban sedang duduk santai di depan kamar kosnya. Tak lama kemudian, Kades Jeverson Burnama datang bersama pemandu lagu (LC) dan berniat menggelar pesta minuman keras (miras) tepat di depan kamar V.
Merasa terganggu, korban langsung menegur dan mengusir oknum Kades beserta LC tersebut. Bukannya pergi, Jeverson justru merespons dengan arogan dan membentak korban dengan dalih kekuasaannya. "Saya yang berkuasa di sini!" cetus Jeverson ditirukan oleh korban.
Ketegangan memuncak saat pacar korban melintas di depan kosan. Tanpa alasan yang jelas, Jeverson langsung melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap korban. Korban sempat memberikan perlawanan untuk membela diri, hingga akhirnya ibu korban dan warga sekitar datang melerai perkelahian tersebut.
Sebelum meninggalkan lokasi, Jeverson sempat melontarkan ancaman bahwa ia akan kembali untuk melakukan serangan balasan. Ancaman tersebut terbukti. Tidak berselang lama, Jeverson kembali datang membawa anaknya beserta sejumlah anggota Karang Taruna untuk mengamuk dan mengintimidasi korban.
Menurut penuturan korban, tindakan anarkis oknum kades ini didasari oleh rasa cemburu. Jeverson diketahui pernah dekat dengan korban di masa lalu, namun kedekatan tersebut telah kandas. Kendati demikian, Jeverson yang berstatus sudah memiliki istri sah ini dikabarkan terus mengganggu dan enggan melepaskan korban.
Korban juga menceritakan bahwa saat dirinya masih berstatus istri orang lain, Jeverson terus mengganggunya hingga rumah tangga korban berakhir dengan perceraian. Setelah bercerai, keduanya sempat dekat kembali karena Jeverson mengaku berstatus duda dan berjanji akan menikahinya. Namun, janji tersebut terbukti palsu.
"Saya tidak mau berlama-lama dalam masalah ini karena dia (kades) sudah beristri. Bahkan, istri sah kades juga sering melakukan pemukulan terhadap saya," ungkapnya terpukul.
Penderitaan korban tidak berhenti di situ. Selain dirinya, ibu kandung V juga menjadi korban pemukulan oleh oknum kades tersebut.
Korban mengaku aksi kekerasan fisik ini bukan pertama kalinya terjadi. V sebelumnya sudah pernah melaporkan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh Kades Jeverson maupun istrinya ke pihak Polsek Lelilef. Namun hingga kini, korban mengeluhkan belum adanya pergerakan berarti dari aparat penegak hukum setempat.
Selain melakukan intimidasi fisik, Jeverson juga dituding sering memprovokasi warga dan memutarbalikkan fakta di lapangan guna merusak nama baik korban dengan cerita-cerita negatif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berusaha menghubungi Kades Jeverson burnama, guna mendapatkan klarifikasi dan konfirmasi. (Tim/Red)
