Pemprov Malut Dorong Penguatan Pertahanan Nirmiliter dan Titip Perjuangan UU Provinsi Kepulauan di Forum DPN

Editor: Jurnalmalut

ISTIMEWA

TERNATE, JurnalMalut.com - Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, menekankan pentingnya penguatan sinergi sistem pertahanan nirmiliter atau nonmiliter dalam menghadapi kompleksitas ancaman modern yang kian samar dan multidimensi.

 Hal tersebut disampaikannya saat membuka secara resmi Sosialisasi Kebijakan Umum Pertahanan Negara (Jakumhanneg) Tahun 2025–2029 Bidang Nirmiliter yang berlangsung di Halmahera Room, Gamalama Bella Hotel Ternate, Kamis (25/6/2026).

Dalam sambutannya, Sarbin mengingatkan bahwa kedaulatan negara saat ini tidak lagi sekadar diuji oleh ancaman militer konvensional, melainkan oleh tantangan nirmiliter yang menyasar sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ia merinci sejumlah ancaman nyata di daerah yang harus diwaspadai, mulai dari penetrasi disinformasi, kejahatan siber, radikalisme, hingga dampak perubahan iklim global yang mengancam ketahanan pangan lokal.

"Pertahanan negara di era modern bukan lagi menjadi domain atau tanggung jawab jajaran TNI semata, melainkan mandat semesta bagi seluruh elemen bangsa. Kebijakan bidang nirmiliter menjadi instrumen yang sangat krusial untuk membangun ketahanan nasional yang kuat, tangguh, dan adaptif," tegas Sarbin.

Sebagai provinsi kepulauan di gerbang kawasan Timur Indonesia, Wagub membeberkan tantangan geografis ekstrem yang dihadapi Maluku Utara. Ia memberikan ilustrasi konkret mengenai tingginya sekat konektivitas, di mana perjalanan darat dari Ibu Kota Sofifi menuju Halmahera Timur memakan waktu hingga 8 jam, Halmahera Utara 4 jam, serta Jailolo dan Halmahera Tengah sekitar 2 jam. Tantangan lebih berat berada di jalur laut, di mana perjalanan kapal dari Ternate menuju Pulau Taliabu membutuhkan waktu hingga 2 hari 2 malam, sedangkan ke Kepulauan Sula memakan waktu 1 malam.

Di samping masalah regulasi maritim, Sarbin juga memberikan catatan kritis mengenai paradox pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara yang saat ini dipacu secara masif oleh hilirisasi industri pertambangan.

"Secara makro-teoretis, pertumbuhan ekonomi kita masuk dalam jajaran tertinggi nasional. Namun, jujur saja masyarakat kami belum merasakannya secara utuh. Pertumbuhan tersebut murni dipicu oleh sektor hilirisasi tambang yang modal dan kapitalnya berasal dari luar. Ini harus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi negara agar para pengambil keputusan memberikan perhatian khusus, sehingga kue pembangunan bisa terdistribusi ke seluruh lini demi mengikis kesenjangan sosial," pungkasnya. (JM)

 

Share:
Komentar

Berita Terkini