![]() |
| Ketua tim Gamalama FKIK Unkhair apt. Amran Nur, M.Kes, Menyalurkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Banjir Bandang di Tapanuli Selatan, Provinsi Sumut (Dok. Humas Unkhair) |
TERNATE, JurnalMalut.com - Lebih dari seratus hari telah berlalu sejak banjir bandang menyapu sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Air yang dulu datang membawa lumpur dan puing, kini telah surut.
Namun bagi sebagian warga, jejak bencana itu masih tertinggal pada rumah yang hilang, kenangan yang belum pulih, dan pada tenda-tenda pengungsian yang masih berdiri di sudut desa.
Di antara hari-hari yang berjalan pelan itu, sekelompok mahasiswa datang dari timur Indonesia. Mereka adalah Tim Gamalama, dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak (PMB), mereka tiba di Desa Batu Hula dan Desa Garoga, dua desa yang masih menyimpan luka akibat banjir bandang. Kehadiran tim itu sederhana: membawa pengetahuan, waktu, dan kesediaan untuk duduk bersama warga yang sedang berusaha menata kembali hidup yang pilu.
Program ini dipimpin oleh apt. Amran Nur, M.Kes, dengan melibatkan mahasiswa Program Studi S1 Farmasi serta S1 Psikologi FKIK Unkhair.
Di esa-desa itu, mahasiswa tak hanya datang membagikan bantuan. Melainkan pula, mendampingi warga melalui hal-hal kecil yang perlahan memulihkan kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diajak bermain dan belajar kembali, sembari mendapatkan edukasi psikososial untuk meredakan trauma yang masih tersisa setelah bencana. Para orang tua diajak berbincang tentang perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS.
Di sela-sela kegiatan, mahasiswa FKIK juga memperkenalkan pembuatan sabun berbahan eco-enzyme, sebuah keterampilan sederhana yang diharapkan bisa dimanfaatkan warga dalam kehidupan mereka nanti.
Di halaman rumah yang tersisa, warga kembali diperkenalkan pada tanaman obat keluarga (TOGA). Bagi sebagian orang, tanaman-tanaman itu mungkin hanya daun dan batang. Namun dalam situasi darurat, ia bisa menjadi cara paling dekat bagi keluarga untuk menjaga kesehatan mereka.
Tak hanya itu, Tim Gamalama menyalurkan 60 paket sembako kepada para penyintas banjir. Bantuan ini mungkin tak menghapus kehilangan. Tetapi, setidaknya dapat meringankan kebutuhan sehari-hari bagi mereka yang masih bertahan di pengungsian.
Kunjungan para mahasiswa berlangsung di bulan Ramadan. Menjelang senja, saat azan magrib hampir tiba, mereka menyiapkan minuman dan makanan sederhana untuk warga yang menjalani puasa di tengah kehidupan yang belum sepenuhnya pulih.
Di momen berbuka bersama itu, suasana desa terasa sedikit berbeda. Ada tawa anak-anak, percakapan ringan di antara warga, dan ada kesadaran yang diam-diam tumbuh, bahwa mereka tak sepenuhnya sendiri menghadapi masa sulit ini.
Ketua Tim Gamalama, apt. Amran Nur, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sivitas akademika Unkhair untuk terlibat dalam proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Menurut dia, bantuan yang diberikan tak hanya berhenti pada kebutuhan material. Pendampingan juga diarahkan untuk mendorong masyarakat memperkuat ketahanan mereka, agar lebih siap menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.
Program ini terlaksana melalui dukungan Hibah Program Mahasiswa Berdampak (PMB) Kemdiktisaintek Tahun 2026, dengan tambahan dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta Rektor Unkhair.
Bagi Unkhair, kegiatan ini juga memiliki arti tersendiri. Tim Gamalama menjadi satu-satunya penerima hibah PMB dari kawasan Timir Indonesia.
Namun bagi para mahasiswa yang terlibat, perjalanan itu lebih dari sekadar program pengabdian.
Di desa-desa yang pernah diterjang banjir itu, mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan tak selalu hadir dalam ruang kelas. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana: duduk bersama warga, mendengar cerita mereka, dan menjadi saksi kecil dari upaya manusia untuk bangkit pelan-pelan dari sebuah bencana.*
