![]() |
| Askim Kanshu (doc.Pribadi) |
Oleh: Askim Kanshu
Editor, Penulis Freelancers, Jurnalis.
“ Bacalah atas nama Tuhan-mu yang mencintai tanpa pamrih.”
— Khrisna Pabhicara
SUBUH baru saja lewat ketika aku menutup halaman terakhir _Eat, Pray, Love_ karya Elizabeth Gilbert. Di luar rumah, hujan menyisakan dingin yang merayap di tanah pekarangan. Angin bertiup lirih, menyusup dari celah daun jendela, membawa aroma basah yang samar.
Aku mereguk kopi Aceh yang masih mengepulkan hangat. “This Love”—lagu paling muram dari duo Davichi: Lee Hae-ri dan Kang Min-kyung—pelan-pelan memecah sepi. Nada pianonya jatuh seperti gerimis yang enggan reda.
Ingatanku perlahan terpelanting ke siang 24 November. Siang yang kini terasa seperti halaman lama dari sebuah buku: kusam di tepi, namun tetap menyimpan aroma kenangan setiap kali dibuka ulang.
Hari itu, matahari di sekitar garis imajiner terasa terlalu dekat dengan bumi. Orang-orang berjalan tergesa sambil menggerutu, “panas sekali.” Di kantor, aku duduk memunggungi jendela ruang kerja, menanggalkan kaus yang basah oleh peluh. Meski jendela dan pintu terbuka lebar, hawa gerah tak enyah.
Di tengah suhu tropis itu, sebuah esai sederhana yang terbit di media digital, segera kukirim tautannya kepada seorang gadis yang sedang memintal masa depan di Texas, Amerika Serikat. Negeri mercusuar peradaban yang kukenal lewat berita di berbagai media maupun buku.
“Itu sedikit tentangmu,” tulisku di dinding percakapan Instagram. Tak lama, ia membalas dengan emoji hati merah pada tautan itu. Beberapa menit kemudian, pesan lain menyusul: “Woow, maaf sekali saya baru balas. Saya tersenyum dan tertawa kecil selama membaca tulisanmu sampai selesai.”
Panas yang sedari tadi menindihku perlahan luruh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Ada riak lembut yang mengusap batinku, antara haru dan lega. Aku tersenyum sendiri.
Namun kalimat berikutnya membuatku terpaku sampai teman kerja menatapku dengan wajah heran. “Saya anggap tulisanmu ini sebagai hadiah ulang tahunku yang kemarin, 18 September. Terima kasih sudah menulis tentangku. Saya selalu suka tulisanmu.”
Aku membacanya lebih dari tiga kali, seakan tak percaya. Kopi kureguk lagi, dan mengucek mata seperti orang yang takut salah memahami kebahagiaan kecilnya sendiri. Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu dalam.
Aku membayangkan ia membaca tulisan itu di kamar apartemen yang diselimuti musim dingin. Duduk memeluk lutut di dekat lampu belajar yang temaram, sesekali tersenyum kecil karena beberapa paragraf dariku singgah sebentar dalam hidupnya.
Sahabatku, Midun, pernah berkata “bunga mekar hanya untuk satu musim.” Mungkin senyumnya saat membaca tulisan itu adalah mekarnya bunga—singkat, tak sempat digenggam. Tapi aromanya tertinggal lama dalam ingatan, setelah kelopaknya gugur dan terbang bersama angin.
Aku mulai bertanya dalam hati, mungkinkah sebuah tulisan menjadi hadiah tanpa pernah diniatkan demikian? Mungkinkah beberapa paragraf menjelma tempat singgah kecil bagi seseorang yang lelah oleh hidupnya sendiri?
Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa tulisanku berarti baginya, karena ia tak memberiku penjelasan apa-apa, dan aku merasa tak perlu meminta. Sebab, hati manusia tak seperti lautan yang dapat diukur, terlalu rumit untuk dibaca—bahkan bahasa pun kerap gagal menjangkaunya.
Sesudah tulisan yang menjelma hadiah ulang tahun itu, percakapan kami jeda cukup lama hingga tahun berganti. Tetapi di sela rehat kerja, aku kerap membuka akun media sosialnya—hanya memastikan ia baik-baik saja di negeri yang dipisahkan ribuan kilometer dan musim berbeda.
Di tengah kesibukan kuliah dan hari-hari liburannya, ia membaca banyak buku—Osamu Dazai, Paulo Coelho, Tan Malaka, hingga Tara Westover. Sementara aku tenggelam dalam halaman-halaman R.F Kuang, Fyodor Dostoyevsky, dan Michelle Zauner.
Kami menjalani hidup bagai dua pembaca yang berhenti di satu rak buku perpustakaan yang sama, lalu saling melambaikan tangan sebelum kembali berjalan, tanpa mengatakan apa yang sebenarnya ingin diucapkan.
Belakangan, ia kembali melihat unggahanku. Aku juga masih mengintip unggahannya. Percakapan kami hidup lagi. Tak seramai dulu, tapi seperti dua orang yang sama-sama memahami bahwa tidak semua kedekatan harus diberi nama. Kami berbicara tentang duet menulis, menerbitkan buku, dan tentang buku yang belum selesai dibaca.
Tetapi kami tak lagi membicarakan tulisan yang pernah ia sebut sebagai hadiah ulang tahun. Dan aku mulai percaya, setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri: selesai ditulis oleh pengarangnya, lalu perlahan hidup di hati seseorang dengan makna yang tak sepenuhnya dipahami oleh penulisnya sendiri.**
