![]() |
| Ketua Umum HMI Cabang Ternate, Yusril Buang |
TERNATE, JurnalMalut.com – Hutan Patani di Kabupaten Halmahera Tengah kembali menjadi saksi bisu peristiwa berdarah yang menyisakan duka mendalam sekaligus kemarahan publik.
Seorang pria paruh baya, Ustad Ali Abas, warga Desa Bobane Jaya, ditemukan tewas secara tragis dalam hutan tersebut.
Kematian Ustad Ali Abas seolah membuka luka lama dan ingatan kolektif masyarakat atas peristiwa serupa pada tahun 2021 di Hutan Damuli, Patani Timur. Meski tim gabungan TNI-Polri sempat diterjunkan, hingga kini misteri siapa pelaku di balik aksi keji tersebut belum juga terpecahkan.
Bukan Kriminal Biasa
Menanggapi hal ini, Ketua Umum HMI Cabang Ternate, Yusril Buang, angkat bicara dengan nada keras. Ia menegaskan bahwa rangkaian pembunuhan di Hutan Patani bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan indikasi adanya pola kejahatan terstruktur.
"Peristiwa ini bukan kebetulan. Ini mengindikasikan adanya pola kejahatan sistematis yang berpotensi melibatkan kekuatan di luar sekadar pelaku lapangan," tegas Yusril, Jumat, 3 April 2026.
Tantangan Terbuka untuk Kapolda Malut
Secara spesifik, Yusril melayangkan tantangan terbuka kepada Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Waris Agono. Ia mendesak kepolisian untuk tidak hanya bermain di permukaan dan sekadar mengejar eksekutor teknis.
“Saya atas nama Ketua Umum HMI Cabang Ternate dengan tegas menantang Kapolda Maluku Utara untuk berani mengungkap aktor intelektual di balik rangkaian pembunuhan ini. Jika hanya menyasar pelaku teknis, itu adalah bentuk kegagalan dalam membongkar kejahatan secara utuh,” ujarnya.
Menurut Yusril, aktor intelektual adalah pemegang kunci, motif, dan kendali atas seluruh konstruksi kejahatan yang terjadi. Mengabaikan mereka sama saja dengan membiarkan "api" kejahatan tetap menyala dan siap menelan korban berikutnya.
Desak Scientific Crime Investigation
HMI Cabang Ternate mendesak aparat penegak hukum untuk bekerja lebih progresif. Yusril menyarankan penggunaan pendekatan scientific crime investigation, penguatan analisis intelijen, serta penelusuran mendalam terhadap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.
"Masyarakat tidak butuh sekadar rilis penangkapan. Yang dibutuhkan adalah keberanian institusi Polri untuk membuka tabir kebenaran secara menyeluruh. Kepercayaan masyarakat sedang dipertaruhkan," tambahnya.
Yusril menutup pernyataannya dengan peringatan keras bahwa negara tidak boleh kalah oleh kelompok perusuh yang mencoba memecah belah keutuhan bangsa. Ia menegaskan bahwa jika kasus ini tidak diusut hingga ke akar-akarnya, sejarah kelam ini dipastikan akan terus berulang di masa depan. (Yadin/Red)
