![]() |
| Manager Environmental IWIP, Yofi Safutra |
HALTENG, JurnalMalut.com – PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membuktikan bahwa operasional industri skala besar tetap bisa berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan.
Melalui pemanfaatan teknologi mutakhir, IWIP kini menyulap sisa pembakaran batubara menjadi material konstruksi yang bernilai guna.
Manager Environmental IWIP, Yofi Safutra, mengungkapkan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah pengendalian Fly Ash (abu terbang) dan Bottom Ash (abu endap) atau yang dikenal sebagai FABA.
"Sebagai sisa dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), abu ini ditangani dengan prosedur ekstra ketat agar tidak mencemari udara, ujarnya, Kamis (9/4)
Teknologi ESP: ‘Magnet’ Penjaring Debu
Agar partikel halus tidak terbang ke pemukiman atau area kerja, IWIP mengandalkan teknologi Electrostatic Precipitator (ESP).
Teknologi ini bekerja layaknya magnet raksasa yang menangkap partikel debu hasil pembakaran sebelum sempat keluar ke udara bebas.
"Teknologi ini sangat efektif memastikan partikel halus tidak terlepas ke udara bebas," jelas Yofi.
Sementara untuk bottom ash yang lebih berat, perusahaan langsung mengumpulkannya dari mesin boiler untuk disimpan di fasilitas khusus yang kedap debu.
Dari Limbah Menjadi Infrastruktur
Menariknya, IWIP tidak sekadar membuang sisa pembakaran tersebut. Melalui prinsip reuse dan recycle, FABA diolah kembali menjadi produk konstruksi berkualitas.
Saat ini, hasil olahan limbah tersebut telah menjelma menjadi:
- Batako dan Paving Block untuk area pedestrian.
- Conblock untuk fasilitas olahraga dan taman.
- Campuran Beton untuk pembangunan akomodasi karyawan.
Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah industri, tetapi juga menciptakan kemandirian material dalam pemeliharaan infrastruktur internal perusahaan.
Komitmen Hijau yang Terukur
Yofi menegaskan bahwa seluruh proses ini dilakukan sesuai standar regulasi nasional. Pemantauan kualitas udara dilakukan secara berkala untuk memastikan operasional tetap di bawah ambang batas baku mutu.
“Melalui teknologi dan pengelolaan berkelanjutan, kami memastikan dampak abu terbang terkendali sekaligus mendukung industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkasnya (Yadin/Red)
