-->

Makugawene, Kearifan Ternate yang Mengajarkan Empati di Era Media Sosial

Editor: Jurnalmalut

TERNATE, JurnalMalut.com - Di tengah arus digital global yang kian mempercepat pertukaran informasi sekaligus memupuk prasangka, falsafah hidup Makugawene dari masyarakat Ternate mengemuka sebagai bahasa empati dalam komunikasi lintas budaya.

Makugawene adalah nilai yang menekankan sikap saling mengasihi dan menyayangi, dibahas sebagai tawaran etis untuk menjaga kemanusiaan di ruang digital yang rentan terhadap stereotip dan generalisasi.

Falsafah ini menjadi salah satu materi utama dalam International Experts Sharing Meeting bertema Digital Storytelling & Cross-cultural Communication yang digelar secara daring pada Jum'at (16/1/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi dari Asia Tenggara dan Asia Timur untuk membahas tantangan komunikasi antarbudaya di era digital.

Sejumlah akademisi lintas negara hadir sebagai pembicara, antara lain Pattrawut Charoenroop (Thailand), Guizhen Liu (Tiongkok), Christian (Filipina), Syadza (Universitas Riau), serta M. Ridha Ajam, Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate periode 2021–2025.

Diskusi berangkat dari pertanyaan mendasar, bagaimana komunikasi lintas budaya dapat berlangsung secara lebih etis di tengah arus digital yang kerap memperkuat prasangka dan pelabelan identitas?

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unkhair, Irfan Ahmad, menilai Makugawene relevan sebagai strategi kultural masyarakat Maluku Utara dalam merespons tantangan sosial modern.

Menurutnya, falsafah ini lahir dari pengalaman historis masyarakat Ternate yang sejak lama hidup dalam perjumpaan lintas identitas, agama, dan tradisi global.

Dalam pemaparannya, M. Ridha Ajam menjelaskan bahwa Makugawene berfungsi sebagai jembatan komunikasi antarbudaya dengan menekankan keterbukaan, empati, serta penghindaran pelabelan primordial. 

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menekan risiko prasangka yang kerap muncul akibat penilaian subjektif dan generalisasi berlebihan di ruang digital.

Nilai Makugawene, kata Ridha, telah diterapkan dalam praktik kehidupan sosial masyarakat Ternate, antara lain melalui kolaborasi lintas iman dalam konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, serta forum-forum warga yang mengedepankan kesejahteraan bersama dalam penyelesaian konflik sosial.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unkhair, Prof. Dr. Sundari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Indonesia–Tiongkok Education Industry Collaboration Summit 2025.

“Alhamdulillah, program ini terlaksana melalui International Experts Sharing Meeting. Terima kasih dan apresiasi kepada mantan Rektor Unkhair Dr. M. Ridha Ajam, yang berpartisipasi sebagai narasumber perdana mewakili Unkhair, bersama Go Study Global Education dan Pasita Foundation," kata Prof Sundari, saat dihubungi pada Sabtu (17/1/2026).

Prof Sundari berharap kegiatan ini berdampak positif bagi akademisi.

"Semoga kegiatan ini menginspirasi partisipasi akademisi lainnya ke depan,” harapnya.

Melalui forum ini, Makugawene ditegaskan tidak hanya sebagai warisan budaya lokal, tetapi juga sebagai peta jalan etis dan komunikatif dalam memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat multietnik global.*

Share:
Komentar

Berita Terkini