-->

Rahasia di Puncak Gunung

Editor: Jurnalmalut

 

Ilustrasi 

Oleh: Ucok S. Dola

 (Mantan Sekjend SAMURAI Malut)

CARILAH keindahan pada kesunyian. Demikian sebuah kalimat yang memaksaku berani melangkah maju – membawaku pada hal-hal yang menakjubkan. Pagi itu – menjelang akhir tahun 2025 dan awal 2026 – sebanyak enam orang dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang laki-laki serta tiga perempuan mendaki puncak Gunung Gamkonora. Aku salah satu diantara kelompok itu – namaku Sagara. Seorang lelaki paruh baya yang berupaya mencari alasan dibalik para Pendaki yang gemar mendaki pucak gunung.

Setelah menyiapkan peralatan mendaki, kami berangkat menuju jalur pendakian pada waktu petang. Lia, Vivi dan Adinda mengambil posisi dibagian tengah, sementara aku, Alan dan Aldi mengambil posisi depan dan belakang – walaupun terkadang di antara kami saling tukar posisi di jalur ketika stamina kami mulai turun.

Sekitar satu jam lebih berjalan menyusuri pekatnya malam – akhirnya kami sampai di Pos 1 untuk beristirahat sejenak. “Masih banyak kelompok pendaki yang berada di puncak gunung. Tetap semangat ya kak…!” ucap seorang pendaki lain yang turun dari puncak. Kalimat itu menjadi luar biasa bagi pendaki – mereka dengan gagah berani memeberikan semangat kepada sesama – bahkan ada makna dibalik semua kalimat pendaki yang berpapasan di jalur, namun tak pernah saling menjatuhkan.

Beberapa menit pun berlalu, perjalanan dilanjutkan ditengah sunyi nan gelap. Merongrong dalam ketenangan, diiringi nyanyian hewan liar yang ditelan pekatnya malam. Kemurnian udara pada malam hari menyejukkan jiwa, menghadirkan fokus pada tujuan. Para pendaki diberi pelajaran hidup – sesulit apapun jalur yang akan dilewati, jangan pernah berbalik atau menyerah – melainkan tetap fokus pada tujuan. Sebagaimana filosofi hidup – jika ingin menggapai sesuatu yang besar maka pastikan kita memiliki keberanian untuk melangkah kedepan, bukan mundur atau jalan ditempat.

Keringat yang bercampur dengan suhu dingin menyatu di tubuh kami. Lesu dan letih di jalur pendaki, takkan menjadi tembok yang menghalang. Bukan memaksakan diri untuk terus maju – melainkan memeberi kesempatan pada diri untuk melihat dan memahami dalam satu kelompok. Moralitas kemanusiaan dijunjung tinggi di jalur pendaki – sebab di sana banyak hal yang diuji secara kemanusiaan. Bukan tentang sejauh mana kesabaran seseorang diukur, melainkan seberapa mampu seseorang bertahan dalam ketenangan untuk menaklukan Ego dalam diri. Sebab – ketenangan adalah cara terbaik menghadapi masalah sebesar gunung. Ini adalah catatan yang seringkali salah diartikan, karena itu ketegasannya ada pada ketenangan diri yang akan menentukan jalan bagi setiap orang. Sekacau apapun kondisi disekitar kita, maka ketenangan mampu memberi banyak jalan untuk ditempuh – dan tidak bertumpu pada jalan yang satu.

Terhitung selama delapan jam lebih perjalanan di jalur pendakian Gamkonora – kami pun tiba di puncak. Sebuah sketsa alam yang benar-benar dilukis sang Arsitek semesta – menampar jiwa yang lelah dan tertidur sepanjang jalan. Walaupun hari masih gelap, namun lampu-lampu kecil para pendaki mewujudkan bentuk yang paling indah ditengah kegelapan. Dari sini – kita bisa percaya bahkan cahaya hanya akan indah bila ada kegelapan. Dan kegelapan tak selamanya dipandang berbahaya, justru ada kebenaran yang bersembunyi dibaliknya.

Karena diserang lelah dan kantuk – Lia, Vivi dan Adinda langsung tertidur setelah kami dirikan tenda untuk mereka. Sementara kami bertiga masih duduk menikmati kopi hangat – sembari berbincang-bincang kecil tentang alasan dasar mengapa banyak orang senang mendaki puncak gunung. 

Pertanyaan ini kulontarkan kepada Aldi dan Alan – karena mereka berdua sudah sangat berpengalaman dalam mendaki gunung. “Sebenarnya, apa yang dicari para pendaki di puncak gunung? Aku pernah dengar orang-orang berkata, ada ketenangan serta keindahan di puncak, dan juga karena proses menuju puncak bisa melatih mereka untuk bersabar sampai tujuan. Tetapi, aku masih belum puas dengan jawaban seperti itu, karena banyak ketenangan yang bisa ditemukan selain puncak gunung, juga melatih kesabaran untuk mencapai tujuan bukan hanya dengan mendaki semata!” ucapku seraya menyeruput kopi good day di bawah suhu dingin.

Alan dan Aldi menunjukan ekspresi tertarik dalam wacana ini. Mungkin bagi mereka – aku hanya seorang pemula dan sudah pasti sangat penasaran. Karenanya – mereka berdua mulai mengutarakan pandangannya dengan detail dan penuh filosofis. Sebetulnya, ada hal penting yang membuat banyak orang gemar naik ke puncak gunung. Namun – banyak diantara mereka ke puncak sekadar mengabadikan momen di media sosial, mungkin beberapa lainnya sedang patah hati atau bahkan jatuh cinta, hingga menjadikan puncak gunung sebagai saksi atas perasaan mereka masing-masing, lalu dikemas dengan rapi. Ada juga yang menjadikan puncak gunung sebagai tempat pelarian – mereka tidak menemukan ketenangan dilingkungannya, lelah menghadapi kenyataan disekitar – hingga datang mencari ketenangan dan kebahagiaan di puncak gunung. Dan – semua itu benar adanya. Tetapi – bukan itu yang menjadi rahasia di puncak gunung.

Puncak gunung adalah tempat yang berada paling di atas – paling tinggi sederhananya. Sesuatu yang tinggi dari semua tempat di mata manusia kebanyakan. Tetapi – puncak tidak pernah menjadi tempat bagi setiap orang yang sombong dan angkuh dalam kehidupan. Orang yang sombong dan angkuh takkan bisa menaklukan ketinggian. Ambisi dalam hidup sangat penting – namun dalam sekejap akan runtuh bila dipandu dengan hati yang busuk.

Ia berada di puncak dan menjadi tempat ternyaman bagi orang-orang yang rendah hati. Orang-orang yang belajar memaknai arti hidup yang sesungguhnya – dan puncak gunung menyediakan hasil yang memuaskan bagi mereka. Tak peduli apa tujuannya, namun semua perjuangan yang didasari dengan kelembutan hati serta kedalaman pikiran di jalur pendaki – takkan pernah dikhianati sedikitpun. Karena puncak adalah kedudukan tertinggi – maka disana adalah tempat bertahtanya manusia yang memanusiakan manusia yang lain. 

Hal ini samar-samar dengan konsep kebebasan secara filosofi – Tuhan memeberikan kebebasan pada manusia, tidak dalam pengertian manusia bebas berlaku tidak adil kepada selain dirinya. Melainkan – kebebasan itu diberikan agar manusia mampu membebaskan selain dirinya. Sederhana – namun sulit dipraksiskan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga puncak menjadi sebuah rahasia yang tak disadari kedalaman makna yang sesungguhnya. **


Share:
Komentar

Berita Terkini