![]() |
| Asi Iksan (doc.pribadi) |
Mahasiswa Universitas Khairun Ternate
LAUT sore itu tidak tenang. Anginnya membawa suara yang berat, seperti napas seseorang yang sudah terlalu lama menahan tangis. Ombak datang bertubi-tubi, menghantam pantai dengan amarah yang tak jelas asalnya. Langit memerah bukan hanya karena matahari yang perlahan tenggelam, tapi seolah ikut terbakar oleh sesuatu yang tak terlihat.
Di antara riuh ombak dan desir angin, duduklah seorang gadis. Tubuhnya kaku, seperti diikat oleh waktu yang enggan melepaskan. Namun matanya hidup, menatap jauh ke cakrawala yang samar, seolah di ujung sana ada sesuatu yang dulu pernah berarti. Tak ada suara keluar dari bibirnya, hanya tarikan napas yang pelan, tersesat di antara debur laut.
Laut itu berisik. Terlalu berisik. Namun di dalam berisik itu, ada kesunyian yang aneh. Seolah setiap gelombang membawa pesan, setiap gemuruh mengandung kalimat yang tak selesai diucapkan. Ia mendengarnya bukan dengan telinga, tapi dengan hati yang sudah lama retak dan belajar diam. Ingatan datang tanpa diundang. Tentang tawa yang dulu memenuhi udara, tentang suara yang dulu ia hafal tanpa perlu melihat, tentang tangan yang pernah menggenggamnya erat di bawah langit biru yang kini hanya tinggal kenangan.
Ia teringat ucapan lembut yang pernah diutarakan di tepian laut yang sama tentang kebersamaan yang katanya tak akan pudar, tentang langkah yang konon akan selalu saling mencari meski waktu memisahkan. Namun waktu, seperti laut, tidak pernah benar-benar bisa dimiliki. Kini semua kenangan itu larut bersama buih, terbawa ombak yang datang silih berganti. Mereka menyatu dengan air asin, tenggelam di dasar laut yang menyimpan terlalu banyak rahasia dan kehilangan. Dan ia tahu, sebagian dari dirinya ikut tenggelam di sana bersama seseorang yang tak pernah kembali.
Ombak terus datang, tak peduli. Mereka menabrak batu, pecah, lalu lahir lagi dalam bentuk yang sama. Begitulah juga luka hancur, tapi selalu kembali dalam wujud baru. Setiap kali ia mencoba melupakan, ada satu kenangan kecil yang muncul diam-diam dan menggigit batin dari dalam. Ia menunduk, membiarkan air laut menyentuh ujung jarinya. Rasanya asin seperti air mata yang tak lagi bisa dibedakan dari ombak.
Lalu ia mengangkat tangannya, melihat jejak air yang menetes dari kulitnya, dan tersadar bahwa laut dan air mata punya bahasa yang sama: keduanya mengalir karena kehilangan sesuatu.
Waktu berjalan lambat. Langit mulai ungu, burung-burung laut terbang rendah, dan suara ombak semakin bergulung. Ia mendengar suara hatinya sendiri di sela-sela riuh itu, lirih tapi jelas suara yang selama ini ia abaikan karena takut mendengar kebenaran.
Malam akhirnya turun. Langit menghitam, tapi laut masih berisik. Seperti jantung yang berdetak keras di dada seseorang yang sedang belajar menerima kehilangan. Dan tiba-tiba, di tengah semua suara itu, ia mendengar bisikan lembut yang nyaris tak terdengar: “Tidak apa-apa jika kamu masih menyimpan luka. Kadang luka juga bagian dari cara bertahan.” Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, air laut terasa seperti pelukan, bukan ancaman.
Ia membiarkan setiap hembus angin menyapu wajahnya, setiap ombak menyentuh kakinya, seolah laut sedang menenangkannya, mengatakan bahwa ia tidak sendirian di dunia ini. Mungkin laut tidak sedang marah. Mungkin laut hanya sedang mengingat, sama seperti dirinya.
Mengulang semua yang pernah indah, agar tidak sepenuhnya hilang. Dan perlahan, suara laut mulai berubah. Ombak tak lagi berteriak, angin tak lagi menampar. Yang tersisa hanyalah suara lembut, seperti seseorang yang berbisik dari kejauhan. Ia membuka mata, dan di hadapannya, bulan mulai naik perlahan bulat, terang, dan utuh. Permukaan laut kini berubah menjadi cermin.
Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri: mata yang bengkak, wajah yang lelah, tapi masih hidup. Dan di saat itu, ia tersenyum kecil. Senyum yang mungkin belum sepenuhnya bahagia, tapi jujur. Mungkin itulah artinya bertahan, bukan melupakan, tapi berdamai dengan yang pernah menyakitkan. Tetap berada di tengah badai, tapi tidak lagi melawan. Belajar menerima bahwa beberapa hal memang harus pergi agar hati punya ruang untuk tumbuh kembali.
Laut malam itu akhirnya tenang. Bintang-bintang muncul satu per satu, seperti cahaya kecil yang menuntun arah pulang. Dan di antara suara ombak yang mulai beristirahat, ada keheningan yang terasa seperti doa. Doa dari laut, untuk luka yang perlahan belajar sembuh. Doa dari langit, untuk jiwa yang kembali berani berharap. Doa dari dunia, untuk gadis yang pernah begitu kesepian dan akhirnya, berani mendengarkan dirinya sendiri. Saat ia berdiri, angin malam menyibak rambutnya lembut. Ia menatap laut untuk terakhir kalinya malam itu, lalu berbisik pelan, “Terima kasih sudah mengingatkanku… bahwa kesedihan pun bisa menjadi lagu yang indah.” Dan saat ia melangkah meninggalkan pantai, laut kembali berisik. Tapi kini, suaranya tidak lagi terdengar seperti ratapan, melainkan seperti nyanyian perpisahan yang lembut. **
