![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Badwi Pina
Camerad Samurai Maluku Utara
Di kota yang tumbuh di bawah bayang gunung dan laut, malam sering dianggap penjaga. Ia menutup hari, menenangkan jalan, memberi jeda bagi tubuh-tubuh yang lelah. Tapi malam juga tahu cara berubah: dari penjaga menjadi “struktur”—diam, menekan, dan menyembunyikan banyak hal.
Malam itu, “Nayala” duduk sendiri di kamar kosnya, sebuah ruang kecil yang ia kira netral. Ia belum tahu bahwa tidak semua ruang benar-benar aman, karena ruang—seperti tubuh—selalu berada di dalam relasi kuasa.
Jam berdetak menuju pukul 00.00, tubuh mungil itu masih terpaku di pojok kamarnya.
Tangis rindu akan ayahnya yang telah berpulang setahun lalu belum usai ketika “ketukan” itu datang.
Bukan ketukan yang ramah. Tidak memanggil nama. Tidak meminta izin. Ia datang seperti keputusan sepihak—seperti banyak kebijakan yang diturunkan dari atas tanpa pernah bertanya pada yang di bawah.
Nayala membuka pintu.
Di sana berdiri “Breden”—bukan sekadar lelaki, melainkan “jabatan yang berjalan”. Namanya sering dipanggil di forum, di rapat, di podium. Dalam struktur kampus, Breden adalah simpul kuasa: ia didengar, ia dipercaya, ia jarang dipertanyakan.
“Aku hanya sebentar,” katanya, suaranya datar seperti keputusan rapat.
“Sekarang sudah malam,” jawab Nayala pelan. “Ada apa?”
“Tenang saja,” kata Breden sambil melangkah setengah masuk. “Kita ini teman.”
“Aku hanya sebentar saja Nay,” katanya.
Dan Nayala pun membiarkannya masuk. Bukan karena ia ingin, tapi karena sejak lama perempuan diajarkan bahwa “menolak kuasa” sering dianggap sebagai sikap berlebihan. Dalam teori kekerasan seksual, inilah yang disebut koersi simbolik —paksaan yang tidak perlu kekerasan fisik karena status sosial sudah bekerja lebih dulu.
Nayala berdiri dekat pintu. Tubuhnya tahu: jarak adalah bentuk pertahanan paling awal.
“Kenapa pintunya ditutup?” Nayala bertanya panik, napasnya menderu.
Ketika pintu itu ditutup, Nayala merasa ruang mengecil. Bukan karena ukuran kamar berubah, tapi karena posisi di dalamnya berubah. Breden berdiri lebih dekat. Jabatan berdiri di hadapannya.
“Biar kita bicara lebih enak,” jawab Breden. “Kamu selalu kelihatan kuat. Aku suka perempuan yang berani.”
“Itu bukan undangan,” kata Nayala cepat. “Aku sudah bilang, aku punya pasangan.” Ini sudah kesekian kali Breden mengonfirmasi perasaanya. Entah cinta atau sebatas nafsu.
Breden tersenyum tipis.
“Perasaan itu tidak bisa diatur, Nayala. Masa kamu tidak mau dengar?”
“Aku sudah dengar,” jawab Nayala, suaranya meninggi. “Dan jawabanku tidak.”
“Terlalu kaku,” kata Breden. “Santai saja. Jangan bikin suasana jadi aneh.”
Kalimat itu bukan nasihat. Itu peringatan halus dari struktur yang memegang kuasa.
Dalam banyak kasus kekerasan seksual, bahasa perasaan sering dipakai sebagai legitimasi moral: seolah hasrat pribadi lebih tinggi nilainya daripada persetujuan orang lain. Nayala menolak. Jelas. Tegas.
“Aku memilih setia pada lelaki ku.” Nayala mempertegas.
Namun penolakan itu tidak menghentikan langkah Breden.
Di titik ini, kekerasan belum hadir sebagai pukulan atau luka, tapi sebagai penghapusan suara. Dalam teori feminis, inilah yang disebut epistemic injustice—ketika kesaksian seseorang dianggap tidak penting karena posisinya lebih rendah.
Penolakan Nayala membuat Breden semakin menjadi-jadi. Nayala yang merasa terancam spontan megeluarkan suara keras.
“Jangan kurang ajar!”
“Kenapa teriak?” katanya cepat. “Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Keluar!” teriak Nayala. “Sekarang!”
“Kamu jangan lebay,” jawabnya. “Ini bisa jadi salah paham.”
Teriakan itu bukan hanya suara takut, melainkan perlawanan terhadap struktur. Ia berharap ada yang mendengar. Tapi malam, seperti sistem yang terlalu sering berpihak pada yang berkuasa, tidak segera menjawab.
Ketika tubuh Nayala ditekan oleh ketakutan, ia sadar bahwa kekerasan seksual tidak selalu dimulai dari sentuhan, melainkan dari klaim atas tubuh orang lain. Dari keyakinan bahwa jabatan bisa menjadi izin, bahwa kuasa bisa menjadi pembenaran.
Ia melawan.
Dalam teori kekerasan berbasis gender, perlawanan korban sering kali diabaikan atau disalahpahami. Padahal perlawanan tidak selalu heroik. Kadang ia hanya berupa teriakan. Kadang berupa air mata. Kadang berupa bertahan hidup satu menit lebih lama.
Beberapa kali Breden mencoba kembali menutup ruang.
“Biarkan aku memelukmu” Kata Breden sembari berusaha menutup mulut Nayala agar tidak bersuara.
“Lepas!” Nayala berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Breden.
Sampai akhirnya ponsel itu berdering.
Satu suara dari luar sistem kecil di kamar itu. Satu relasi yang setara. Dalam banyak kisah penyintas, interupsi—kehadiran pihak ketiga—sering menjadi faktor yang menghentikan kekerasan, bukan karena pelaku sadar, tapi karena kuasanya terancam.
Breden mematung sesaat.
“Kita bicarakan lain waktu,” katanya singkat, lalu pergi—membawa serta malam yang kembali pura-pura tenang.
Ia pergi tanpa penjelasan, seperti banyak pelaku yang pergi membawa diam—meninggalkan korban dengan kebisingan yang harus ia tanggung sendiri.
Nayala duduk terkulai di lantai.
Tubuhnya selamat, tapi rasa aman runtuh seketika.
Air mata Nayala tak terbendung. Ia menangis karena takut dan bingung atas apa yang barusan dialaminya.
Ia akhirnya mengerti bahwa kekerasan seksual bukan soal nafsu semata, melainkan relasi kuasa yang timpang. Bahwa institusi bisa melahirkan pelaku bukan karena ia jahat sejak lahir, tetapi karena sistem jarang mengajarkan batas pada mereka yang berada di atas.
Sejak malam itu, Nayala tahu:
Bahwa jabatan tidak netral,
Bahwa kepercayaan tanpa akuntabilitas adalah bahaya,
Dan bahwa tubuh perempuan sering dijadikan medan uji kuasa.
Ketukan itu tidak pernah datang lagi. Tapi strukturnya masih berdiri. Dan Nayala, seperti banyak perempuan lain, harus belajar hidup dengan satu pengetahuan pahit: Bahwa bertahan bukanlah akhir dari perjuangan—Ia baru permulaan dari keberanian untuk bersuara.
***
Struktur yang Tetap Berdiri
Malam itu berakhir, tapi “struktur tidak ikut runtuh”.
Setelah pintu tertutup dan langkah Breden menghilang, Nayala mengira bagian terberat telah lewat. Ia keliru. Kekerasan tidak berhenti ketika pelaku pergi; sering kali ia justru berpindah bentuk—dari tubuh ke meja rapat, dari kamar kos ke ruang administrasi.
Hari-hari berikutnya, kampus kembali ramai. Poster-poster organisasi menempel rapi. Mikrofon dipasang untuk diskusi. Breden kembali berjalan di koridor—tegak, percaya diri, dengan lencana jabatan yang masih menggantung di dadanya. Seolah malam itu tidak pernah terjadi.
Nayala datang membawa kisahnya ke lembaga yang katanya dibangun untuk melindungi. Ia duduk di hadapan orang-orang yang berbicara dengan bahasa prosedur: bukti, klarifikasi, jangan terburu-buru, nama baik institusi. Setiap kata terdengar sopan, tapi dingin.
“Ceritakan lagi kronologinya,” kata seorang pejabat, tanpa menatap mata Nayala.
“Saya rasa kronologisnya sudah tersebar dimana-mana,” jawab Nayala lirih.
“Kami perlu memastikan,” sahut yang lain. “Ini menyangkut nama baik banyak pihak.”
“Bagaimana dengan keselamatan saya?” tanya Nayala.
Jangankan simpati, justru pertanyaan demi pertanyaan itu menambah luka Nayala yang masih menganga. Dalam teori kekerasan institusional, inilah secondary victimization—ketika korban kembali dilukai bukan oleh pelaku, melainkan oleh sistem yang seharusnya melindungi.
Nayala diminta mengulang cerita, lagi dan lagi, sampai suaranya terdengar seperti arsip, bukan pengalaman hidup.
Ruang aman yang dijanjikan ternyata bersyarat.
“Ada mekanisme,” kata mereka.
“Tunggu proses,” tambah yang lain.
Namun proses itu berjalan satu arah. Breden tidak dihentikan. Ia tetap memimpin rapat. Tetap berdiri di depan forum. Tetap menjadi wajah organisasi. Kampus memilih stabilitas simbolik ketimbang keselamatan nyata.
Dalam logika kuasa, ini bukan kelalaian—ini “keputusan politik.”
Beberapa mahasiswa berdiri di sisi Nayala. Mereka menulis pernyataan, mengadakan diskusi kecil, menyebarkan selebaran dengan kata-kata sederhana: “percaya korban”. Tapi keberpihakan itu segera dibalas dengan bisikan dan panggilan.
“Kami percaya kamu,” kata Mayana, juga beberapa sahabat Nayala, Sri Ningsih dan Wulan.
“Tapi hati-hati,” timpal Rengganis. “Nama kalian sudah disebut-sebut.”
Jelang satu hari Nayala dimintai klarifikasi, Ibu Nayala dipanggil.
Bukan untuk melindungi, melainkan untuk menenangkan. Bukan untuk mendengar, melainkan untuk meredam.
“Ini bisa merusak masa depanmu,” kata salah satu perwakilan kampus.
“Dan nama baik keluarga,” tambah yang lain.
Ibunya menggenggam tangan Nayala.
“Kamu yakin mau lanjut?” bisiknya. “Ibu takut kamu yang disalahkan.”
Nayala terdiam.
Ia sadar, intimidasi tidak selalu berbentuk ancaman keras. Kadang ia hadir sebagai kekhawatiran orang-orang terdekat.
Nama baik keluarga diulang seperti mantra. Masa depan Nayala disebut-sebut seolah ancaman. Para pembela korban mulai menerima pesan singkat: peringatan, sindiran, bahkan tuduhan bahwa mereka “memperkeruh suasana”.
Inilah yang oleh para teoritikus disebut chilling effect—ketika intimidasi tidak selalu berbentuk larangan resmi, tetapi cukup untuk membuat orang diam. Kampus tidak perlu membungkam secara langsung; ia hanya perlu membiarkan ketakutan bekerja.
Breden, sementara itu, tetap bergerak bebas.
Dalam studi tentang impunitas, pelaku sering dilindungi bukan karena tidak bersalah, melainkan karena terlalu terhubung dengan struktur. Jabatan menciptakan perisai. Prosedur menjadi labirin. Waktu dijadikan strategi.
Nayala mulai memahami bahwa kekerasan seksual bukan peristiwa tunggal, melainkan rangkaian relasi kuasa:
Pelaku menyerang,
Institusi menunda,
Masyarakat menekan,
Dan korban diminta menyesuaikan diri.
Malam itu mungkin telah berlalu, tetapi kampus—yang seharusnya menjadi ruang berpikir kritis—justru berubah menjadi mesin normalisasi. Kekerasan tidak disangkal, hanya dikecilkan. Tidak dibenarkan, hanya dibiarkan.
Namun Nayala tidak sepenuhnya sendirian.
Ada suara-suara kecil yang tetap bertahan. Mereka tahu risikonya. Mereka tahu nama mereka mulai dicatat bukan sebagai mahasiswa berprestasi, melainkan sebagai “pengganggu ketertiban”. Tapi mereka tetap bicara.
“Kalau kita diam,” kata seorang mahasiswa di lingkar diskusi kecil,
“berarti kita sedang belajar membenarkan kekerasan.”
“Dan kampus akan mencatat kita sebagai masalah,” jawab yang lain.
“Tidak apa,” katanya lagi. “Lebih baik dicatat sebagai pengganggu daripada diam sebagai pengecut.”
Dalam teori perlawanan, inilah yang disebut counter-memory—ingatan yang menolak dilenyapkan oleh versi resmi.
Di sudut kelas Nayala duduk dalam kebisuan. Ia belajar satu hal penting:
Bahwa kampus bisa gagal,
Bahwa hukum bisa lambat,
Bahwa keluarga pun bisa tersandera oleh ketakutan sosial. Namun ia juga belajar hal lain: Bahwa keberanian tidak selalu menang cepat, tapi ia meninggalkan jejak.
Struktur itu masih berdiri.
Pelaku masih berjalan.
Institusi masih bicara tentang citra.
Tapi cerita Nayala telah keluar dari kamar kos itu. Ia hidup di ingatan mereka yang menolak diam.
“Ini bukan salahmu.”
“Tubuhmu bukan agenda rapat.”
“Dan luka tidak perlu izin untuk dianggap nyata.”
Kata-kata dari sahabat-sahabatnya adalah kekuatan baru bagi Nayala.
Ia percaya bahwa di suatu titik—entah kapan—Struktur yang berdiri terlalu lama di atas luka akan retak oleh suara-suara yang tak lagi mau disembunyikan. **
