![]() |
| Ucok S. Dola (doc.pribadi) |
(Refleksi Filosofis Desa Kawasi)
Oleh: Ucok S Dola
(Mantan Sekretaris Jenderal SAMURAI Maluku Utara)
KASAK-kusuk kehidupan masyarakat Maluku Utara di tengah delusi kesejahteraan – menganga bagai ruang kosong. Embrio lahirnya peradaban kemanusiaan tak lagi relevan dengan kondisi yang ada. Ruang hidup terjepit di antara kepentingan kelompok – bermain modal sekaligus bermain nyawa.
Gambaran utuhnya terpampang jelas depan mata – dari daratan panjang Halmahera, menuai kisah heroik dan tragis – heroik bagi klaim kepentingan, sementara tragis menjadi konsekuensi logis yang dialami masyarakat.
Literatur sejarah filsafat klasik – kita bisa menemukan makna yang secara filosofis menjadi sumber penghidupan makhluk hidup di muka Bumi. Di sana – Thales menyajikan ‘Air’ sebagai sumber dari segala kehidupan. Air menjadi unsur yang sangat penting, tanpa air maka kematian menjadi pasti.
Sebagaimana intensitas manusia dalam beraktivitas, hidup berkelompok dan menjalankan kesehariannya dari pelbagai aspek, dia terus mengalir seperti air. Sebaliknya – jika aktivitas manusia terhenti, maka ancaman yang dihadapinya makin berat bahkan melibatkan nyawa. Begitu pula dengan air, bila tak lagi mengalir ke hiril maka air itu meluap keluar dan menyebabkan bencana alam. Demikianlah siklus kehidupan antara manusia dan air.
Tak sebatas itu, perkembangan zaman saat ini telah menghilangkan unsur alami dari air. Politisasi air terlembagakan – mengkalim lebih sehat dan instan ketimbang berjuang mengambilnya di mata air. Dengan dalil pelayanan publik – sumber mata air dikelola oleh lembaga negara untuk warganya, alih-alih menagihnya dalam bentuk hitam putih (Bayar Pajak).
Perubahan unsur alami dari air terlihat jelas di kota-kota besar. Lalu bagaimana dengan Daerah-daerah terisolir di Maluku Utara? Sebagai contoh kasus Desa Kawasi, Kabupaten Halmahera Selatan, Kecamatan Obi. Jelas tentu hal itu berbeda. Terutama di Daerah Pertambangan, ragam masalah unik terkait air bahkan mengancam peradaban manusia.
Dia mengalir, tetapi bukan air. Sebuah kalimat klise yang sebetulnya mengurai benang kusut di tengah ramainya manusia modern – yang hanya sibuk mengeruk serta merusak, tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan. ‘Modernitas’ menjadi slogan pertumbuhan dan perkembangan Ekonomi nasional – gedung-gedung megah dan pabrik menyuplai kesejahteraan pada manusia yang mengeklaim dirinya modern – selain dari itu – hanya mendapat setetes dari akumulasi modal raksasa modern. Bonusnya – air minum yang terindikasi sendimentasi.
Tiga sumber mata air yang terdapat di Desa Kawasi. Sumber mata air sungai Toduku, mata air Terjun dan mata air Danau Karo. Dua di antara mata air Desa Kawasi (Sungai Toduku dan Air Terjun) yang jaraknya lebih kondusif diakses oleh warga telah terindikasi.
Mulanya, sungai Toduku memiliki air sangat jernih. Beberapa warga mengaku – “sebelum adanya perusahaan – sekalipun kita membuang jarum di sungai toduku, kita masih bisa menemukan jarum itu”. Ironisnya – jalur mata air sungai toduku telah ditutup oleh Perusahaan PT. Harita Nikel untuk jalur produksi. Warga kemudian beralih ke mata air Terjun, berharap mereka dapat mengonsumsi air dengan layak.
Tepat dibulan November 2025, kondisi air yang mengalir dari mata air terjun ke rumah warga pun sudah terindikasi. “Coba biarkan selama 10 menit air yang mengalir itu di dalam ember penampung air, setelahnya akan terlihat di dasar ember ada butir-butir halus berwarna putih!” ucap warga.
Kondisi ini menggambarkan campur tangan manusia terhadap perubahan alam, dampaknya nyata menggerogoti nyawa dikemudian waktu. Jelas mengalir, tetapi bukan kehidupan melainkan ancaman.
Sebuah ancaman yang mengalir kedalam rumah, takkan menjanjikan keberlangsungan peredaban yang sudah lama tumbuh.
Sementara mata air Danau Karo (sumber mata air terakhir) aksesnya sangat jauh, membutuhkan transportasi laut untuk menyeberang. Akses terhadap Danau Karo menjadi pilihan terakhir, namun warga sadar bahwa mereka dipaksa melarat, karena itu mereka menidak pada sesuatu yang sudah terjadi, saat yang bersamaan juga menindak sesuatu yang belum terjadi.
Di tengah hiruk pikuk itu, pengabaian negara terhadap hak dasar dan unsur alami air nyata dipermukaan. Tarik ulur waktu menjadi dalil keberpihakan negara terhadap korporasi Harita, orientasi kebijakan diinterupsi ketika warga menuntut hak dasar. Sirkulasi ekonomi politik satu komando dari pusat hingga daerah dengan slogan Proyek Strategi Nasional (PSN).
Alhasil, kematian peradaban manusia bersembunyi dibalik delusi kesejahteraan pembangunan nasional. Sumtera dan Aceh adalah gambaran lainnya , sementara Kawasi ikut terdaftar dalam gambaran tersebut, tetapi dalam bentuk yang lain (anak ayam yang mati di atas tumpukan padi). **
