Selamat Pagi Kawasi

Editor: Jurnalmalut
Ucok S Dola. (doc.pribadi)

Oleh: Ucok S. Dola 

(Mantan Sekjend SAMURAI Malut)

SEBUAH kebiasaan lama. Sebagaimana ucap dan sapa setiap warga di kampung ketika bertemu disimpang jalan pada waktu pagi, walaupun dalam kondisi yang berbeda. Bagi pekerja di perusahaan, selamat pagi bukanlah ucapan kosong, melainkan akhir dari keringat mereka yang sudah kering semalaman, dan kini akan mengeluarkan keringat pula. Sementara, selamat pagi untuk BOS di perusahaan adalah awal tanpa akhir untuk menghasilkan uang dari hasil pengrusakan alam.

Kawasi, sebuah Desa yang terletak di bagian selatan Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Kekayaan alam yang melimpah, Nikel dan Batu Bara menjadi primadona di mata dunia. Namun, kondisi warganya dihimpit oleh raksasa Nikel. Cerobong pabrik mengudara 1x24 jam, gedung-gedung mewah memantulkan cahaya lampu dengan terang, tapi meyisakan sedikit cahaya bagi warga yang berada dalam kegelapan.

Ibu-ibu di Desa Kawasi menjemput pagi dengan berdagang nasi kuning, lain di antara mereka berangkat ke kebun bersama suami. Tetapi bukan untuk memanen atau menanam, melainkan menjaga lahan mereka dari praktik penggusuran oleh pihak Perusahaan (PT. Harita Group). Hal ini sering terjadi, beberapa warga mengaku perusahaan pernah menggusur lahan perkebunannya tanpa ada izin atau pemberitahuan.

Setelah hal itu terjadi, maka warga hanya diberikan pilihan untuk perusahaan harus mengganti rugi (bayar lahan warga), dengan kata lain perusahaan telah berhasil mengambil sumber penghasilan warga. Ini adalah pilihan sekaligus kutukan di mata publik. Sebagian orang akan menyalahkan warga karena menjual lahan ke perusahaan, tetapi mengabaikan fakta bahwa warga benar-benar terpaksa oleh situasi di lingkungannya.

Pencemaran lingkungan masif terjadi disekitar. Di udara ada asap pabrik yang menyelimuti langit, di laut dan bibir pantai ada sisa-sisa pembuangan limbah yang mengalir mengikuti jalur sungai Toduku ketika musim hujan. Fenomena itu menggerogoti waktu pagi untuk setiap nelayan maupun anak sekolah, apalagi musim hujan pernah menghabiskan barang-barang warga di waktu pagi, tepat pada 22 Juni 2025 lalu, pukul 06.00 Wit. Para warga terpaksa meratap dalam kosong, sementara tak ada satupun perhatian yang datang dari Pemerintah ataupun Perusahaan terkait bencana yang menimpa. Padahal, banjir itu terjadi karena pembangunan Sediment Pond dari perusahaan yang jebol akibat musim hujan, dan menghasilkan luapan air besar memasuki permukiman warga. Alhasil – meninggalkan trauma dalam benak. Hujan bukan lagi rahmat sebagaimana desa-desa yang belum ada Industri Ektraktif.

Di kawasi, risiko alam terus bergulir mengikuti waktu, dari aspek kesehatan, pendidikan, dan pelbagai aspek lainnya menyimpan ketimpangan sosial yang begitu dalam. Tarik ulur waktu, Janji dari Pemda maupun Perusahaan terkait Tujuh tuntutan warga tak kunjung di ujung. Penerangan Listrik dan Air bersih sempat menjadi trending topik di mata publik, ada yang saling klaim ini kepentingan sepihak dan kelompok, atau ini murni kepentingan warga. Seakan mereka mengambil peran dan menghakimi penderitaan warga Kawasi.

Belum lagi – Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan dan pihak Perusahaan saling tuding terkait tanggungjawab siapa untuk merespon tuntutan warga. Menurut pihak perusahaan, tuntutan terkait Air bersih dan listrik adalah tanggungjawab Pemerintah Daerah, dengan kata lain, perusahaan juga mengabaikan tanggungjawab sosial bagi warga lingkar tambang. Air bersih menjadi keruh karena aktivitas pertambangan, “Listrik warga biarlah padam, tetapi jangan listrik perusahaan yang padam karena akan menimbulkan kerugian”, demikian kebenaran yang tertanam saat ini.

Degradasi moralitas menjadi hal lumrah di Kawasi – nilai kemanusiaan tak lagi dipandang penting daripada Nikel dan Batu Bara. Hak warga untuk memilih mempertahankan hak atas tanah dan sejarah telah kehilangan harapan – yang tersisa adalah warga kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Institusi keamanan (TNI/POLRI) ikut terlibat untuk mengamankan PSN di Kawasi – dan selalu sigap jika warga berani melawan perusahaan.

Karena itu, “Selamat Pagi Kawasi” merupakan sebuah hinaan, bukan lagi hal baik. Mata warga terjaga saat malam, bukan semata-mata karena gelap – tetapi mempersiapkan diri untuk menghadapi peristiwa baru pada setiap pagi. Adu domba antara warga di perkampungan baru (Eco Village) dengan warga di kampung induk terus terjadi. Tidak tahu menahu siapa yang melakukannya, namun yang pasti adalah orang yang pandai untuk tidak bertanggung jawab. **

Share:
Komentar

Berita Terkini