SUATU hari di tahun Sebelum Masehi (SM), pasukan Julius Caesar menyerang istana. Sang Ratu berlari sambil memekik ketika melihat perpustakaannya terbakar: “Jangan hancurkan perpustakaanku, selamatkan buku-bukuku, separuh dunia ada di situ!!!” Pasukan pengawal istana yang ketakutan, panik bukan kepalang, bergegas menyelamatkan perpustakaan dan koleksinya.
Nama populernya Cleopatra, Ratu Mesir, yang menangisi sebagian besar koleksi di perpustakannya hangus terbakar itu. Tapi, hasrat besar Caesar yang ingin menaklukkan Mesir, malah “tunduk“ pada Cleopatra. Bukan takut, tapi pesona Cleopatra yang meluluhkan kebesarannya sebagai laki-laki penguasa tertinggi Kerajaan Romawi. Jatuh cinta. Lalu, ia memohon maaf dan menghadiahkan 200.000 buku kepada Clopatra, sebagai ganti buku yang dihancurkan pasukannya.
Perpustakaan yang begitu kuat dicintai Cleopatra, namanya Perpustakaan Alexandria. Didirikan oleh Ptolemi I pada 232 SM, dan dipercaya sebagai perpustakaan pertama terlengkap di muka bumi. Koleksinya mencapai 700 ribu buku.
Penyair Muharry Wahyu Nurba menukil kisah legendaris tersebut melalui esainya di Koran Tempo, edisi Makassar, yang kami permak seperlunya. Kisah yang mencerminkan betapa berharganya perpustakaan dan buku bagi perempuan yang senegara dengan salah satu pesepakbola tenar di dunia saat ini: Mohamed Salah.
”Separuh dunia ada di situ,”pekik Cleopatra, seperti peribahasa buku adalah jendela dunia.
Dalam novel berjudul Cleopatra, sastrawan besar Bernard Shaw menulis: Cleopatra lahir tahun 69 SM, wafat 30 SM. Nama aslinya Thea Philopator. Ia, Ratu Mesir VII tahun 193-176 SM, dan memegang tampuk kekuasaan tahun 180 SM. Dalam sejarah, ia terkenal sebagai wanita cantik, ambisius pula.
Perpustakaan Alexandria menjadi pusat belajar di zaman itu, terbaca dalam sejumlah buku, di antaranya yang dieditori Roy MacLeod, The Library of Alexandria: Center of Learning in the Ancient World. Tak heran, Cleopatra tak memikirkan harta di dalam Istana yang terbakar, melainkan perpustakaan dan koleksinya.
Perpustakaan tak hanya menyimpan jendela-jendela dunia, oleh Clepatra disebut “separuh dunia.” Banyak penulis terinspirasi perpustakaan untuk memroduksi berbagai jendela dunia, fiksi maupun non fiksi. Sekadar contoh, The Magic Library buah pena-fantasi Jostein Gaarder; The Library of Night, Alberto Manguel; The Paris Library, Janet Skeslien Charles; The Midnight Library, oleh Matt Haig; dan bagian dari cerita The Chemist karya Stephenie Meyer, yang menjadi best seller internasional.
Tak sedikit pula orang yang merasakan dampak pengalaman langsung bergumul dengan perpustakaan, yang tak mungkin kami sertakan semua di sini. Seperti ungkapan penulis Amerika, Sidney Sheldon, “perpustakaan menyimpan energi yang memicu imajinasi. Mereka membuka jendela ke dunia dan menginspirasi kita untuk mengeksplorasi dan mencapai, dan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup kita.” Penulis serial novel The a Court, Sarah J. Maas: “perpustakaan penuh dengan ide–mungkin senjata yang paling berbahaya dan kuat dari semua senjata.”
Perpustakaan tak hanya dibangun, dicintai, dan menginspirasi banyak orang. Melainkan pula, ditakuti penguasa. Bersandar pada Fernando Baez, sastrawan Damhuri Muhammad menulis, “tahun 1258, pasukan Hulagu Khan menaklukkan kedigdayaan Dinasti Abbasiyah, menghancurkan semua buku di semua perpustakaan Kota Baghdad dengan membuangnya ke sungai Tigris.
Tinta dan darah bersenyawa, dan mengalir sampai jauh. Di negeri yang sama tahun 2003, Perpustakaan Nasional Baghdad luluhlantak bersama jutaan koleksinya, seiring runtuhnya kekuasaan Presiden Saddam Husen.” Sejarah getir ini mengingatkan kami pada novelis Cekoslowakia Milan Kundera yang menyatakan,”jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.”
Bagaimana di negara kita? Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat yang disusun Perpustakaan Nasional tahun 2020 menyebutkan, pada 2019, Indonesia tercatat sebagai pemilik perpustakaan terbanyak di dunia: 164.610, setelah India, 323.605 Perpustakaan. Di bawah kita, negeri Beruang Merah, Rusia 113.440; dan negeri Tirai Bambu China, 105.831 Perpustakaan.
Sebanyak 164.610 itu terdiri dari 42.460 perpustakaan umum; 6.552 perpustakaan perguruan tinggi, 2.057 perpustakaan khusus, dan 113.541 perpustakaan sekolah. Tersebar di Jawa 47,79 persen, Sumatera 23,45 persen, Sulawesi 11,52 persen, Nusa Tenggara 8,47 persen, Kalimantan 6,67 persen, dan Papua 0,4 persen.
Kendati begitu, jangan dulu menepuk dada. Bangunan peradaban dan kebudayaan kita itu masih ada yang gampang hancur tersapu bencana lantaran dibangun asal-asalan, kadang digunakan gedung tua/bekas, dan letaknya tidak strategis, seperti dikritik senior librarian Heri Rusmana.
Di Maluku Utara, belum ada perpustakaan wilayah yang dibangun Pemerintah Provinsi. Hanya Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara yang membangun perpustakaan modern dan menelan anggaran Rp 9,8 miliar, Agustus lalu belum tuntas, sebagaimana diberitakan media.
Pada sejumlah daerah, bangunan-bangunan yang tak melandasi tegaknya peradaban bangsa dan budaya literasi masyarakat lebih megah dibangun pemerintah, ketimbang perpustakaan. Lucunya, lidah kuasa begitu gampang, penuh semangat dan berbusa-busa bicara kemajuan, masa depan, dan kualitas tunas-tunas muda harapan negeri. Rasa cinta terhadap perpustakaan mestinya dicenderungkan karena jendela-jendela dunia ada di sana, dan karena itu sangat dicintai Cleopatra.
Saat hendak menyudahi tulisan sederhana ini, kami teringat penjelasan Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan: “Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimilikinya.” Sangat benderang. (*)
