![]() |
| Istimewa |
BANJIR besar yang kembali melanda Aceh pada tahun 2025 adalah pengingat yang buruk bahwa hubungan manusia-alam masih lemah. Air yang meluap dari sungai merendam permukiman, sawah, dan fasilitas umum, menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis. Banjir sekarang merupakan krisis yang berulang yang secara bertahap menghancurkan rasa aman masyarakat. Mereka bukan lagi sekadar peristiwa musiman. Dalam hal ini, psikologi lingkungan menjadi alat penting untuk memahami bagaimana bencana banjir terjadi, bagaimana ia memengaruhi kesehatan mental orang Aceh, dan bagaimana ketahanan dan adaptasi dibangun di tengah kondisi yang terus-menerus.
Banjir Aceh pada tahun 2025 umumnya disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hujan berat membuat sungai besar dan kecil meluap. Namun, sistem drainase tidak dapat menampung debit air yang meningkat secara signifikan. Perubahan iklim global bertanggung jawab atas fenomena cuaca ekstrim ini, yang meningkatkan ketidakpastian pola hujan. Hujan yang seharusnya turun secara merata sepanjang musim justru turun dalam beberapa hari, menimbulkan tekanan yang signifikan pada lingkungan dan pemukiman penduduk.
Namun, ada beberapa alasan lain yang menyebabkan banjir. Kerugian lingkungan yang berkelanjutan adalah komponen penting lainnya. Dampak hujan lebat diperburuk oleh alih fungsi lahan, pembukaan hutan di daerah hulu, penurunan kualitas aliran sungai, dan berkurangnya area resapan air. Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi tidak dapat menyerap air dengan baik lagi. Akibatnya, air hujan langsung mengalir ke pemukiman dan sungai, mempercepat banjir. Kondisi ini, dari perspektif psikologi lingkungan, menunjukkan bagaimana perilaku manusia terhadap alam secara tidak langsung membahayakan kesejahteraan mental dan fisik masyarakat.
Banjir yang berulang juga memiliki efek psikologis yang tidak sederhana. Banyak orang di Aceh terus hidup dalam keadaan waswas. Peristiwa psikologis ini bisa dipahami dari Teori Level Adaptasi (Adaptation Level Theory) yang dikemukakan oleh Veitch dan Arkkelin (1995). Yang menyatakan bahwa tingkat stimulasi lingkungan baik yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan membawa dampak negatif pada kesejahteraan dan perilaku seseorang. Setiap kali hujan deras turun, orang takut banjir akan datang lagi, rumah akan terendam lagi, atau mereka harus mengungsi.
Ketidakpastian ini menyebabkan stres yang berkepanjangan, kelelahan emosional, dan bahkan rasa pasrah yang tersembunyi. Dalam psikologi lingkungan, keadaan ini disebut sebagai ketika lingkungan fisik kehilangan peran utamanya untuk memberikan rasa aman dan sebaliknya berubah menjadi sumber tekanan mental.
Meskipun demikian, orang Aceh menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Pola-pola penyesuaian unik dibentuk oleh waktu yang lama mengalami bencana. Orang-orang mulai membangun rumah yang lebih siap terhadap banjir, meninggikan lantai, dan membuat rencana untuk menyelamatkan barang penting. Masyarakat tidak hanya menyesuaikan diri secara fisik, tetapi juga membangun ketahanan mental melalui ikatan sosial. Kebersamaan dalam membersihkan lingkungan pascabanjir dan saling membantu memenuhi kebutuhan dasar adalah bentuk dukungan psikologis yang sangat penting.
Nilai-nilai budaya dan religius masyarakat Aceh sangat memengaruhi kekuatan mental mereka. Banjir sering dianggap sebagai ujian, peringatan, atau bagian dari ketentuan Tuhan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan usaha. Konsep ini membantu masyarakat mengendalikan emosi negatif dan mencegah keputusasaan yang lama. Psikologi lingkungan mengatakan bahwa makna bencana dapat memengaruhi cara seseorang merespons tekanan dan bangkit dari trauma.
Ketahanan mental orang Aceh bukan berarti mereka tidak takut atau kehilangan. Sebaliknya, ketahanan mental mereka tercermin dari kemampuan untuk bertahan, belajar dari pengalaman, dan menyesuaikan diri dengan situasi saat ini. Banjir Aceh tahun 2025 adalah bukti bahwa bencana adalah hasil dari hubungan kompleks antara sistem sosial, faktor alam, dan perilaku manusia. Tekanan psikologis masyarakat akan terus berlanjut selama degradasi lingkungan terus berlanjut.
Oleh karena itu, penanganan banjir tidak dapat terbatas pada unsur-unsur teknis seperti tanggul, drainase, dan bantuan darurat. Pendekatan psikologi lingkungan menekankan betapa pentingnya pemulihan kesehatan mental, penguatan komunitas, dan peningkatan kesadaran lingkungan yang berkelanjutan. Jika kita tidak mengubah cara kita melihat alam, bencana banjir akan terus berlanjut sebagai siklus kesulitan yang sama.
Pada akhirnya, banjir Aceh 2025 menunjukkan bahwa ada hubungan antara manusia dan alam. Pengalaman, rasa solidaritas, dan refleksi kolektif tentang lingkungan mereka membentuk ketahanan mental masyarakat Aceh. Harapan untuk kehidupan yang lebih aman, tangguh, dan bermakna secara fisik, psikologis, dan ekologis masih ada selama manusia dapat belajar dari bencana dan memperbaiki hubungannya dengan alam.
Banjir Aceh 2025 memiliki banyak hubungan dengan tata kelola wilayah dan kebijakan pembangunan, selain faktor curah hujan tinggi dan kerusakan lingkungan. Banyak pemukiman dibangun di wilayah yang rawan banjir tanpa perencanaan ekologis yang memadai. Bangunan, sedimentasi, dan sampah menyempit sungai yang seharusnya dapat meluap secara alami. Drainasi perkotaan kehilangan fungsi utamanya sebagai saluran pengendali air karena tidak berkembang seiring pertumbuhan penduduk. Menurut psikologi lingkungan, kegagalan tata ruang ini menyebabkan ketegangan laten antara manusia dan lingkungannya karena manusia dipaksa hidup di tempat yang tidak lagi memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis.
Perilaku masyarakat dan perspektif mereka tentang lingkungan juga dipengaruhi oleh banjir yang berkelanjutan. Sifat adaptif, seperti kewaspadaan dan kesiapsiagaan, muncul di satu sisi, tetapi juga ada risiko normalisasi bencana, yaitu ketika orang mulai menganggap banjir sebagai sesuatu yang pasti dan harus diterima begitu saja. Konsep ini berpotensi melemahkan dorongan untuk perubahan struktural dan ekologis. Normalisasi bencana, menurut psikologi lingkungan, dapat menyebabkan individu dan komunitas kehilangan perasaan kontrol, membuat masyarakat merasa tidak memiliki kuasa atas lingkungan hidup mereka sendiri.
Dampak psikologis banjir Aceh 2025 berbeda untuk kelompok rentan, seperti wanita, lansia, dan anak-anak. Anak-anak yang mengalami pengungsian berulang dapat mengalami kecemasan berlebihan, gangguan rasa aman, dan kesulitan konsentrasi. Akibat keterbatasan mobilitas, lansia menghadapi tekanan fisik dan emosional, sementara perempuan sering memikul tanggung jawab ganda sebagai ibu rumah tangga dan penjaga kestabilan emosional keluarga. Psikologi lingkungan menekankan bahwa pengalaman ruang dan bencana tidak netral; usia, peran sosial, dan kondisi psikologis individu mempengaruhinya. Oleh karena itu, bencana banjir bukan hanya peristiwa umum; itu adalah pengalaman individu yang terdiri dari berbagai aspek.
Dalam jangka panjang, banjir yang berulang dapat mengubah hubungan emosi masyarakat dengan tempat tinggalnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman sekarang menunjukkan kerentanan. Sungai yang dulunya melindungi kehidupan sekarang menjadi bahaya. Ikatan emosional atau tempat masyarakat terhadap lingkungannya dipengaruhi oleh perubahan makna ruang ini. Rasa keterasingan dan kehilangan identitas ruang muncul ketika ikatan ini lemah. Psikologi lingkungan melihat fenomena ini sebagai krisis dalam hubungan manusia dengan alam dan tempat mereka tinggal. Jika dibiarkan, hal ini dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mental secara keseluruhan.
Teori dari Place Attachment yang dikemukakan oleh Harold M. Proshansky, Irwin Altman, dan Setha Low. Menjelaskan bahwa manusia membangun ikatan emosional yang kuat dengan tempat tinggalnya, karena tempat bukan hanya ruang fisik, tetapi juga bagian dari identitas diri dan rasa aman psikologis. Dalam konteks Aceh, banjir yang berulang mengubah makna rumah, sungai, dan lingkungan sekitar dari simbol perlindungan menjadi sumber ancaman. Perubahan makna ruang ini dapat menimbulkan kecemasan, rasa kehilangan, bahkan krisis identitas tempat. Hal ini sejalan dengan kondisi masyarakat Aceh yang mulai merasa waswas setiap musim hujan, karena lingkungan yang dulu akrab kini tidak lagi memberikan kenyamanan psikologis.
Pada saat ini, banjir Aceh 2025 seharusnya dianggap sebagai sarana untuk berpikir bersama. Bencana ini memberi kita kesempatan untuk memikirkan kembali cara manusia memperlakukan alam, membangun kemajuan, dan menciptakan ketahanan mental masyarakat. Kemampuan untuk bertahan setelah banjir surut bukanlah satu-satunya definisi ketahanan. Ini juga berarti siap untuk berubah, seperti meningkatkan pendidikan lingkungan, memasukkan kesehatan mental ke dalam kebijakan kebencanaan, dan mengubah cara pembangunan. Psikologi lingkungan menyatakan bahwa penyembuhan sepenuhnya setelah bencana hanya dapat dicapai melalui pembentukan hubungan yang lebih adil, sadar, dan berkelanjutan antara manusia dan alam. **
