Manusia Digital: Refleksi Kritis Mazhab Frankfrut

Editor: Jurnalmalut

 

Asmaul Jainudin. (doc.pribadi)

Oleh: Asmaul Jainudin

(Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia)

“aku berpikir makah aku ada”, kini telah berubah menjadi “ aku klik makah aku ada”.

ERA digital saat ini telah membawa perubahan mendalam dalam kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi telah merasuki berbagai aspek, dari cara kita berinteraksi, bekerja, belajar, hingga membentuk identitas. Fenomena ini memunculkan konsep "manusia digital," yaitu individu yang hidup dan berinteraksi secara intens dengan teknologi digital. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut melalui perspektif kritis Mazhab Frankfurt, yang terkenal dengan kritiknya terhadap rasionalitas instrumental dan industri budaya.

Revolusi digital telah mengubah lanskap sosial dan budaya. Internet dan media sosial menciptakan ruang publik yang baru, namun juga menyimpan potensi masalah. Algoritma media sosial dapat menciptakan filter bubble yang mengisolasi individu dari perspektif yang berbeda, sementara berita palsu dan disinformasi mengikis kepercayaan publik. Teknologi digital juga memengaruhi cara individu memahami diri mereka sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.

Dewasa ini kita melihat bagaimana Manusia mulai kehilangan identetitasnya, dan pasif dalam berfikir. Media sosial sering kali mendorong individu untuk menampilkan versi ideal diri mereka, yang dapat menyebabkan perasaan tidak aman dan rendah diri. Ketergantungan pada perangkat digital juga dapat mengurangi interaksi sosial tatap muka dan menyebabkan isolasi.

Revolusi digital telah mentransformasi lanskap sosial dan kultural. Internet dan media sosial telah menginisiasi ruang publik baru, namun juga menyimpan potensi problematik. Algoritma media sosial berpotensi menciptakan yang mengisolasi individu dari perspektif yang heterogen, sementara diseminasi berita palsu dan disinformasi dapat menggerogoti kepercayaan publik terhadap institusi dan media konvensional. Lebih lanjut, teknologi digital turut memengaruhi konstruksi berfikir manusia dan interaksi interpersonalnnya. Media sosial acapkali mendorong individu untuk memproyeksikan representasi diri yang ideal, yang berpotensi memicu perasaan insecure dan rendah diri. Dependensi terhadap perangkat digital juga dapat mereduksi interaksi sosial tatap muka dan mengarah pada isolasi sosial.

Mazhab Frankfurt, yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse, mengembangkan teori kritis tentang masyarakat modern yang didasarkan pada konsep industri budaya dan rasionalitas instrumental. Industri budaya merujuk pada produksi massal artefak budaya oleh korporasi-korporasi besar yang berorientasi pada akumulasi profit.

Bagi Mazhab Frankfurt, industri budaya menghasilkan produk-produk budaya yang homogen dan superfisial, yang berimplikasi pada penumpulan kemampuan berpikir kritis individu dan pelanggengan status quo. Rasionalitas instrumental, di sisi lain, merepresentasikan modus berpikir yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan tertentu, tanpa mempertimbangkan implikasi moral atau etis. Mazhab Frankfurt berargumen bahwa rasionalitas instrumental telah menjadi karakteristik dominan masyarakat modern, yang berujung pada dehumanisasi dan alienasi.

Dalam perspektif Mazhab Frankfurt, manusia digital merupakan produk dari industri budaya dan rasionalitas instrumental. Teknologi digital, yang pada awalnya diekspektasikan untuk membebaskan manusia, justru bertransformasi menjadi instrumen kontrol dan manipulasi yang baru. Media sosial dan platform digital lainnya mengakumulasi data personal pengguna untuk menargetkan iklan dan memengaruhi perilaku mereka.

Algoritma dan kecerdasan artifisial dimanfaatkan untuk mengotomatisasi pekerjaan dan menggantikan tenaga manusia, yang berimplikasi pada pengangguran dan instabilitas ekonomi. Industri budaya digital menghasilkan konten yang homogen dan dangkal yang menumpulkan kemampuan berpikir kritis individu. Media sosial dan platform mempromosikan konsumsi konten yang cepat dan mudah dicerna, yang mereduksi kemampuan individu untuk berkonsentrasi dan berpikir secara mendalam.

Theodor Adorno, dalam karyanya "The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception," mengkritik bagaimana industri budaya menciptakan kebutuhan palsu pada individu. Kebutuhan ini dipropagandakan melalui iklan dan media, yang kemudian dipenuhi oleh produk-produk budaya yang standar dan homogen. Dalam konteks manusia digital, hal ini dapat dilihat dalam tren penggunaan media sosial yang berlebihan, di mana individu merasa perlu untuk terus-menerus memperbarui status dan membagikan konten untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Kebutuhan ini sebenarnya bukan kebutuhan yang otentik, melainkan diciptakan oleh industri budaya untuk memaksimalkan keuntungan.

Herbert Marcuse, dalam karyanya "One-Dimensional Man," berpendapat bahwa masyarakat modern telah menjadi satu dimensi, di mana semua aspek kehidupan telah terintegrasi ke dalam sistem kapitalis. Dalam masyarakat satu dimensi, individu kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan menolak status quo. Teknologi digital, menurut Marcuse, menjadi alat yang ampuh untuk mengintegrasikan individu ke dalam sistem. Media sosial dan platform digital lainnya menyediakan hiburan dan informasi yang terus-menerus, yang membuat individu merasa puas dan tidak termotivasi untuk melakukan perubahan sosial.

Jürgen Habermas, meskipun bukan bagian dari generasi pertama Mazhab Frankfurt, mengembangkan teori tentang ruang publik yang relevan dengan fenomena manusia digital. Habermas berpendapat bahwa ruang publik yang ideal adalah ruang di mana individu dapat berdiskusi secara rasional tentang isu-isu publik dan mencapai konsensus. Namun, dalam era digital, ruang publik telah terfragmentasi dan dipolitisasi. Media sosial dan platform digital lainnya sering kali menjadi tempat penyebaran berita palsu dan ujaran kebencian, yang merusak kemampuan individu untuk berdiskusi secara rasional dan mencapai konsensus.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa teknologi digital juga dapat menjadi alat yang ampuh untuk perubahan sosial. Internet dan media sosial dapat digunakan untuk mengorganisir gerakan sosial, menyebarkan informasi alternatif, dan mempromosikan keadilan sosial. Namun, untuk mewujudkan potensi ini, individu perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab. **


Share:
Komentar

Berita Terkini